Sunday, October 16, 2011

Arti Pemuda didalam Sosialisasi

I.                  Pendahuluan
A.     Latar Belakang
Apa yang akan terjadi apabila seseorang tidak pernah berhubungan dengan orang lain, bergaul atau berkomunikasi? Bisa kita bayangkan hidup seperti apa orang tersebut. Manusia adalah makhluk sosial. Seperti pada “slogan humanisme” (sumber: Novel 5cm) .
Manusia mendapatkan sesuatu dari manusia lain…
Manusia melepaskan sesuatu dari sesuatu yang lain…
Manusia menjadi manusia karena manusia lain…
Dan Manusia menjadi manusia kembali karean manusia lain…
Dari slogan humanism diatas dapat diimpulkan bahwa manusia membutuhkan manusia lain untuk bertahan hidup. Selain itu manusia memerlukan lingkungan sosial dan juga sosialisasi. Karena pada konteks awal manusia adalah makhluk sosial.

B.      Tujuan
Melalui sosialisasi, masyarakat mengajarkan kepada anak-anak mereka tentang apa-apa yang harus mereka ketahui. Tujuan dari proses sosialisasi tersebut antara lain adalah:
-          Menumbuhkan disiplin dasar
-          Menanamkan Aspirasi atau cita-cita
-          Mengajarkan peran-peran sosial dan sikap-sikap penunjangnya.
-          Mengajarkan keterampilan sebagai persiapan dasar untuk berpartisipasi dalam kehidupan orang dewasa.
II.               Tinjauan teori
Kurangnya sosialisasi pada masyarakat akan menimbulkan beberapa dampak negative dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagai contoh, dapat kita lihat di sekitar masyarakat kita. Jika kita bandingkan seorang anak yang berumur Sembilan tahun, yang satu menduduki sekolah dasar yang satu lagi tidak. Dapat kita di bedakan, anak yang menduduki sekolah dasar pasti jauh lebih baik dari pada yang tidak. Karena si anak yang sekolah itu mendapatkan pengajaran dan pendidikan serta sosialisasi yang akan membentuk serta membangun pribadi yang baik. Karana di sekolah si anak tersebut akan di ajarkan banyak hal, seperti bersikap yang baik, berakhlak yang mulia, bermoral, beretika dan cerdas. Akan tetapi pada si anak yang tidak menduduki sekolah dasar, akan menjadi sebaliknya.

III.            Metodologi
Sosialisasi adalah sebuah proses yang memungkinkan seseorang belajar tentang sikap-sikap, nilai-nilai, dan tindakan yang dianggap tepat oleh masyarakat atau satu kebudayaan tertentu. Seseorang perlu belajar tentang sikap, nilai, dan tindakkan ini agar ia dapat bertahan hidup, dapat diterima, dan dapat berhubungan dengan baik didalam masyarakat tersebut.
Proses Sosialisasi memungkinkan orang berperilaku sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Sehingga terhindar dari perilaku asosial. Perilaku asosial adalah perilaku yang menyimpang dari nilai dan norma masyarakat.
Bagi pemuda, sosialisasi merupakan sesuatu yang sangat penting karena pemuda mengalami proses menuju kedewasaan dimana memerlukan sosialisasi yang lebih untuk bisa membawa hidupnya menuju keadaan lebih baik dari keluarganya.
IV.            Studi kasus
Sosialisasai akan terjadi karena adanya interaksi antarmanusia. Dan hal yang perlu disosialisasikan adalah pengajaran,pendidikan dan pelatihan. Setiap orang wajib bersosialisasi akan tetapi untuk para pemuda dan pemudi sosialisasi merupakan ajang untuk menumpahkan kreatifitas juga untuk menambah wawasan dan pengalaman dari orang lain. Dengan bersosialisasi pemuda dapat menjadi pribadi yang matang,untuk menghadapi masa hadapan. Salah satu wadah nya adalah menduduki bangku kuliah atau perguruan tinggi. Karena di level pendidikan yang paling tinggi ini pemuda disebut “mahasiswa” yang mempunyai peran dan tugas khusus, yaitu menjalankan dan meneruskan perjuangan non fisik negara Indonesia.                             
V.               Pembahasan
a.     Pengertian Pemuda
Pemuda adalah suatu kelompok manusia-manusia muda yang sedang menuju proses pendewasaan, yang masih memerlukan pembinaan dan pengembangan kearah yang lebih baik, memerlukan pendidikan yang lebih tinggi lagi. Agar dapat perjuangan dan pembangunan non fisik negara Indonesia.
Pemuda dapat pula diartikan sebagai suatu generasi yang mempunyai tanggung jawab yang besar. Dan pada dirinya dibebani berbagai macam – macam harapan, terutama dari generasi sebelumnya. Hal ini dapat dimengerti karena pemuda diharapkan sebagai generasi penerus, generasi yang akan melanjutkan perjuangan generasi sebelumnya, generasi yang mengisi dan melanjutkan estafet pembangunan.

b.    Pengertian Sosialisasi
·         Sosialisasi sebagai pengalaman sosial sepanjang hidup yang memungkinkan seseorang mengembangkan potensi kemanusiaannya dan mempelajari pola-pola kebudayaan. (Macionis 1997:123)
·         Sosialisasi sebagai proses dimana seseorang menginternalisasikan norma-norma kelompok tempat ia hidup, sehingga berkembang menjadi satu pribadi yang unik. (Horton dan Hunt 1987:89)
·         Sosialisasi sebagai proses yang terjadi ketika seorang bayi yang lemah berkembang secara aktif melalui tahap demi tahap samapi akhirnya menjadi pribadi yang sadar akan dirinya sendiri, pribadi yang berpengetahuan, dan terampil akan cara hidup dalam kebudayaan tempat ia tinggal. (Giddens 1994:60)
c.     Jenis- jenis sosialisasi
Ø  Sosialisasi primer adalah sosialisasi pertama yang dijalani  seseorang semasa kanak-kanak, dan yang berfungsi mengantar mereka memasuki kehidupan sebagai anggota masyarakat.
Ø  Sosialisasi sekunder adalah sosialisasi lanjutan dimana seseorang menjalani sosialisasi di sector-sektor kehidupan nyata di masyarakat, seperti di tempat kerja,akademi militer dan lain sebagainya.
d.    Arti Pemuda didalam Sosialisasi
Sosialisasi adalah proses wajib yang harus setiap individu lakukan. Pemuda, seseorang yang mempunyai tanggung jawab yang besar terhadapnya. Dengan sosialisasi pemuda dapat menjalani tanggung jawabnya dengan menyampaikan ide-ide kreatifnya, membangun mental kepemimpinan dan meluaskan wawasannya dengan sosialisasi.

VI.            Penutup
Manusia memerlukan sosialisasi agar potensi-potensi kemanusiaannya berkembang sehingga menjadi satu pribadi yang utuh dan anggota masyarakat yang baik. Sosialisasi memungkinkan seseorang khususnya pemuda menjadi seseorang individu yang berkepribadian utuh dan menjadi anggota masyarakat yang mampu memberi sumbangan-sumbangan positif bagi kelangsungan hidup masyarakat itu sendiri.

VII.         Daftar Pusaka
Saptono, Bambang Suteng S.2007. Sosiologi untuk SMA kelas XI . Jakarta: Phibeta
http://id.wikipedia.org/wiki/Pemuda  (diakses pada 15 oktober 2011)
http://id.wikipedia.org/wiki/Sosialisasi  (diakses pada 15 oktober 2011)
(diakses pada 11 oktober 2011)







Wednesday, October 12, 2011

Pendidikan Kewarganegaraan untuk Setiap Warga Negara Indonesia




Pendidikan Kewarganegaraan untuk Setiap Warga Negara Indonesia

I.                  Pendahuluan
A.     Latar Belakang
Di masa kini dan yang akan datang adalah Era globalisasi, akan tetapi yang namanya perjuangan harus terus berlanjut dari Era-era sebelumnya. Perjuangan yang mana memiliki semangat juang dan rela berkorban untuk tanah air, telah ditunjukkan pada kemerdekaan 17 Agustus 1945 . Perjuangan ini dilandasi oleh keimanan serta ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan juga keikhlasan untuk berkorban harta,raga, bahkan jiwa. Sesungguhnya semangat inilah yang harus dimiliki oleh setiap warga negara Republik Indonesia. Dengan demikian perjuangan, semangat juang, rasa pembelaan terhadap negara, dah pengorbanan untuk negara memerlukan sarana pendidikan. Sarana pendidikan,yaitu pendidikan kewarganegaraan untuk seluruh warga negara Indonesia pada khususnya dan kepada generasi penerus(mahasiswa dan pelajar) pada khususnya.
B.      Tujuan
Pendidikan adalah wadah untuk meningkatkan kemampuan manusia didalam bidang ilmu pengetahuan. Dengan pendidikan kewarganegaraan diharapkan setiap  warga negara mampu mengantisipasi hari esok yang senantiasa selalu berubah seiring dengan berkembangnya zaman. Selain itu akan timbul kesadaran bernegara dan rasa cinta terhadap tanah air.  Dan yang terpenting mampu berpikir objektif dan rasional juga mandiri. Agar kelak dapat memerangi keterbelakangan negara Indonesia seperti kemiskinan dan ketidaksamaan sosial.
II.               Tinjauan teori
Surutnya semangat juang pada setiap warga negara menyebabkan timbulnya perilaku-perilaku negative yang telah membudaya. Seperti kurangnya minat belajar untuk para pelajar, budaya mencontek, ketidaksopanan terhadap seseorang yang lebih tua, ketidak tertiban lalu lintas, perusakan moral, memiliki jiwa pemberontak dan susah diatur, dan banyak hal-hal lain yang masih banyak lagi. Sikap- sikap yang kurang baik ini sering dilakukan dan tanpa disadari lama- lama menjadi budaya yang menyebabkan banyak dampak negative bagi kemaslahatan kita semua.
III.            Metodologi
Semangat perjuangan senantiasa pasang surut sesuai perubahan zaman, dengan lebih spesifiknya karena pengaruh globalisasi. Karena pengaruh globalisasi, teknologi dan informasi pun semakin maju. Akan tetapi hal ini malah mengendurkan semangat juang dan kesadaran untuk membela negara. Perjuangan seperti ini adalah perjuangan non fisik, dimana memakai media kecanggihan teknologi untuk bertahan dan berjuang. Perjuangan yang seperti ini seharusnya ada di tangan pemuda bangsa. Karena bibit-bibit baru inilah yang akan menyisingkan lengan bajunya. Keluar dari zona ketidaknyamanannya. Untuk membawa merah putih pada dunia. Dan juga kobarkan harum merah putih di mata dunia.  Akan tetapi semangat bela juang pemuda terhadap negara masih sangat minim untuk meneruskan perjuangan. Konteks perjuangan disini bukanlah perang ,seperti perjuangan para nasionalis, akan tetapi seperti mengukir banyak nama Indonesia dengan prestasi-prestasi dan kekreatifitasan. Prestasi-prestasi tersebut tidak hanya berupa intelektual semata,tetapi semua bidang pun dapat menjadi prestasi asalkan membawa nilai-nilai positif dan menjunjung tingginya kreatifitas.
IV.            Studi kasus
Pendidikan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.(sumber : www.wikipedia.com)
Pendidikan biasanya berawal pada saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup.Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia akan bisa (mengajar) bayi mereka sebelum kelahiran.
Setelah mengerti apa itu pendidikan dapat disimpulkan bahwa pendidikan itu adalah cara untuk meningkatkan pemahaman manusia terhadap sesuatu. Dengan begitu, pendidikan kewarganaan disimpulkan sebagai kunci keberhasilan membangun pribadi setiap individu untuk meningkatkan pemahaman tentang apa itu negara, kewarganegaraan, dan hak serta kewajiban warga negara terhadap negaranya. Pendidikan Kewarganegaraan juga menjadi tombak untuk membangun semangat juang dan rasa rela untuk berkorban.

V.               Pembahasan
a.     Pengertian Negara
Negara adalah suatu organisasi dari sekelompok atau beberapa  kelompok manusia yang sama–sama mendiami satu wilayah tertentu dan mengetahui adanya satu pemerintahan yang mengurus tata tertib serta keselamatan sekelompok atau beberapa kelompok manusia tersebut. Atau bisa diartikan sebagai satu perserikatan yang melaksanakan satu pemerintahan melalui   hukum yang mengikat masyarakat dengan kekuasaan untuk memaksa bagi ketertiban sosial.
b.    Pengertian Kewarganegaraan
Kewarganegaraan merupakan keanggotaan seseorang dalam satuan politik tertentu (secara khusus: negara) yang dengannya membawa hak untuk berpartisipasi dalam kegiatan politik. Seseorang dengan keanggotaan yang demikian disebut warga negara. Seorang warga negara berhak memilikipaspor dari negara yang dianggotainya.
Kewarganegaraan merupakan bagian dari konsep kewargaan (bahasa Inggris: citizenship). Di dalam pengertian ini, warga suatu kota atau kabupaten disebut sebagai warga kota atau warga kabupaten, karena keduanya juga merupakan satuan politik. Dalam otonomi daerah, kewargaan ini menjadi penting, karena masing-masing satuan politik akan memberikan hak (biasanya sosial) yang berbeda-beda bagi warganya.
Kewarganegaraan memiliki kemiripan dengan kebangsaan (bahasa Inggris: nationality). Yang membedakan adalah hak-hak untuk aktif dalam perpolitikan. Ada kemungkinan untuk memiliki kebangsaan tanpa menjadi seorang warga negara (contoh, secara hukum merupakan subyek suatu negara dan berhak atas perlindungan tanpa memiliki hak berpartisipasi dalam politik). Juga dimungkinkan untuk memiliki hak politik tanpa menjadi anggota bangsa dari suatu negara.
Di bawah teori kontrak sosial, status kewarganegaraan memiliki implikasi hak dan kewajiban. Dalam filosofi "kewarganegaraan aktif", seorang warga negara disyaratkan untuk menyumbangkan kemampuannya bagi perbaikan komunitas melalui partisipasi ekonomi, layanan publik, kerja sukarela, dan berbagai kegiatan serupa untuk memperbaiki penghidupan masyarakatnya. Dari dasar pemikiran ini muncul mata pelajaran Kewarganegaraan (bahasa Inggris: Civics) yang diberikan di sekolah-sekolah.
c.     Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan Kewarganegaraan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar , proses pembelajaran dan kemampuan meningkatkan kemampuan  agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. pendidikan kewarganaan disimpulkan sebagai kunci keberhasilan membangun pribadi setiap individu untuk meningkatkan pemahaman tentang apa itu negara, kewarganegaraan, dan hak serta kewajiban warga negara terhadap negaranya. Pendidikan Kewarganegaraan juga menjadi tombak untuk membangun semangat juang dan rasa rela untuk berkorban.

d.    Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan
Menumbuhkan wawasan dan kesadaran bernegara, ucapan ,sikap dan perbuatan yang mencerminkan cinta terhadap tanah air dan bersendikan kebudayaan bangsa, wawasan nusantara, dan pertahanan sosial kepada generasi penerus bangsa, khususnya kepada para mahasiswa. Selain menguasai ilmu di bidang yang di tekuni setiap warga negara harus menguasai pendidikan kewarganegaraan. Karena ini adalah ilmu wajib yang selalu terus di berikan dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi.
Selain itu dengan adanya pendidikan kewarganegaraan, setiap warga negara mengerti akan konsepsi demokrasi dan hak asasi manusia. Dengan demikian setiap warga negara dapat membangun dirinya sendiri, masyarakatnya, dan negaranya, serta dapat memenuhi kebutuhan nasional yang terdiri dari setiap individu yang maju, cerdas, kreatif, terampil, loyalitas yang tinggi  dan disiplin juga produktif.
VI.            Penutup
Jika setiap warga negara di wajibkan mendapat pendidikan kewarganegaraan dan mengaplikasikanya dalam kehidupan masyarakat. Maka tujuan negara pun akan tercapai. Pembangunan nasional pun berhasil ,karena setiap individu telah memiliki satu ikatan yang sama yakni semangat juang, rela berkorban, dan sifat nasionalisme yang tinggi. Seperti pepatah bahasa arab “basthatan fil ‘ilmi wal jismi”. Jika kuat dan cerdas dalam ilmu otomatis raga pasti mengikuti, karena pikiran adalah navigasi terbersar dari apapun.

VII.         Daftar Pusaka
http ://Gatotsubiyakto.staffsite.gunadarma.ac.id/download/draft1



Peranan Keluarga dalam Membangun Jati Diri didalam Diri Seseorang



Oleh : Millati Izzatillah

I.                   Pendahuluan
A.      Latar Belakang
Apabila kita berbicara tentang jati diri manusia yang berkualitas, bukan karena yang mempunyai banyak harta dan bergaya hidup mewah. Akan tetapi kemewahan itu terkadang  yang menjadi malapetaka. Banyak hal dalam kehidupan yang semuanya berawal dari pikiran. Pikiran yang berkualitas,itu dihasilkan oleh Jati diri yang berkualitas pula. Karena jati diri akan membentuk pribadi seseorang.
 Akan tetapi banyak kita jumpai di sekitar kita bahwa generasi muda memiliki presentasi yang begitu kecil dalam hal sikap,akhlaq, moral dan etika. Banyak yang menganggap enteng tentang ini, padahal ini modal yang sangat penting untuk hidup bermasyarakat.
B.      Tujuan
Keluarga adalah guru pertama dalam setiap individu, keluarga disini adalah orang yang mengasuh dan menjadi guru pertama dan juga  yang membangun jati diri pada setiap individu.  Terutama orang tua. Jati diri anak ada di tangan para orang tua. Maka bentuklah menjadi pribadi yang berkualitas guna menjadi generasi penerus yang membanggakan.

II.                 Tinjauan Teori
Terjadi tauran antar sekolah, terjerumus NARKOTIK, track motor, Kacau pada pembelajaran, melawan guru, membantah orang tua, penyalah gunaan kemajuan teknologi dah bahkan lupa bersyukur pada Tuhan. Ini semua keadaan yang sudah sangat sering kita liat pada anak-anak zaman sekarang.  Sangat sulit untuk mengubah sesuatu yang telah terbentuk, karena telah mengakar  di pribadi seperti contoh diatas. 
III.              Metodologi
Seperti contoh yang telah di jelaskan  tinjauan teori,  pembentukan jati diri sesorang sangatlah penting. Dan Keluarga menjadi kunci utamanya. Memberikan pendidikan pertama,dengan menumbuhkan dasar nilai kehidupan yang bermoral. Menanamkan pentingnya memiliki jati diri yang menerapkan etika dan kesopanan di kehidupanya kelak.
Sesunggunya orang-orang yang memiliki  pribadi yang kurang baik, tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Karena sesungguhnya yang salah adalah didikan ketika pembentukkan jati diri.

IV.              Studi Kasus
Untuk para generasi muda yang kelak akan menjadi orangtua, marilah kita tanamkan pada generasi penerus kita kelak untuk  membangun generasi baru yang mempunyai jati diri yang sangat berkualitas.

V.                Pembahasan
A.    Definisi Keluarga
Keluarga berasal dari bahasa Sansekerta "kulawarga". Kata kula berarti "ras" dan warga yang berarti "anggota". Keluarga adalah lingkungan di mana terdapat beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah. Keluarga sebagai kelompok sosial terdiri dari sejumlah individu, memiliki hubungan antar individu, terdapat ikatan, kewajiban, tanggung jawab di antara individu tersebut.
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. 
Menurut Salvicion dan Celis (1998) di dalam keluarga terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan, di hidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan

B.    Dampak positif dari Peranan Keluarga dalam Membangun Jati Diri didalam Diri Seseorang

Ø  Menjadi pribadi yang bertanggung jawab
Ø  Mengeti tata karma dan kesopanan
Ø  Menjaga etika dalam pergaulan masyarakat
Ø  Dapat menentukan langkah didalam kehidupan
Ø  Mudah di terima di berbagai lapisan masyarakat
C.      Dampak negatif  dari Tidak berperanannya Keluarga dalam Membangun Jati Diri didalam Diri Seseorang
·         Kacau dalam menentukan hidupnya
·         Salah dalam memilih pergaulan
·         Terjerumus kepada sesuatu yang buruk
·         Memiliki pribadi yang kurang baik.
VI.              Penutup
Dengan Pendidikan yang di berikan oleh keluarga dapat menjadikan Jati diri yang berkualitas, yang tidak berfikir kerdil,  dan yang memiliki etika dan tata karma. 
VII.           Daftar pusaka
Rosse La. 1996.Menggali potensi diri citra pribadi berkualitas.Jakarta: Pustaka Kartini
Carnegie Dale. 1993.How to win Friends and Influence People(Bagaimana mencari kawan dan mempengaruhi orang lain).Jakarta: Binarupa Aksara
http://id.wikipedia.org/wiki/Keluarga (diakses pada 6 oktober 2011)












Friday, October 7, 2011

Menjadi Manusia yang dapat Hidup di Era Globalisasi

Era Globalilasi, Era inilah  yang sekarang kita hadapi. Era yang dimana teknologi dan informasi menjadi ujung tombak untuk hidup di era ini. Kemajuan teknologi  semakin canggih seiring  dengan berjalanya waktu.Keadaan  itu akan membuat manusia dapat mengakses dan menjalankan hidupnya menjadi lebih mudah dan instan. Akan tetapi untuk sebagian kalangan, keadaan ini akan menjadi lebih sulit dibandingkan dengan Era yang lalu,yaitu Era industri. Banyak kita lihat di sekitar kita, orang- orang yang tidak bisa mengikuti perkembangan teknologi, Mereka akan merasakan situasi “sulit”, sulit untuk mendapatkan pekerjaan, sulit berkoneksi,dan sulit pula untuk menjalani hidupnya diberbagai aspek.
Melihat , meresapi,dan menanggapi kenyataan tersebut, saya  Millati Izzatillah, seseorang pelajar  yang baru saja lulus dari Sekolah Menengah Atas di Al-Zaytun Boarding School  bekeinginan memperbaiki keadaan masyarakat saat ini. Oleh karena itu, untuk menjadi “MANUSIA yang DAPAT HIDUP SESUAI dengan ERAnya” saya melanjutkan pendidikan saya dan menjadi mahasiswa baru dengan Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi  jurusan  Sistem Informasi di Universitas Gunadarma.
Sistem Informasi, itulah pilihan saya untuk mewujudkan keinginan saya. Karena manusia hidup harus sesuai dengan Eranya. Seperti halnya FUNGSI didalam pelajaran Matematika, dimana menghubungkan antara elemen satu dengan yang lainya karena adanya suatu relasi yang mengkaitkan setiap elemen satu ke elemen lainya.  Dengan relasi tersebut akan menciptakan kesinambungan.
“Cita-cita adalah suatu impian yang kita tentukan tanggalnya” Ucap Mario Teguh pada acara Golden Way di MetroTV. Setiap orang harus memiliki cita-cita yang sangat tinggi, agar kelak dapat mengangkat derajat dirinya,orangtuanya, keluarganya,agamanya, dan negaranya . Dan cita- cita saya adalah menjadi pengendali system di Negara saya, Indonesia. Menciptakan suatu program dimana menjadi suatu aplikasi hebat yang berasal dari indonesia,  Agar  Negara saya diakui Negara maju. Oleh karena itu saya memperdalami ilmu perkembangan system informasi dan pemograman. Didalam pemograman, logika menjadi satu kunci utama. Untuk memilki kunci utama tersebut Matematika dan pelajaran lain,juga  perlu saya kuasai.
 “Apabila kita kita mengambil ∆x positif, maka turunan akan ke arah kanan. Sebaliknya bila ∆x diambil negative maka turunan akan kea rah kiri.” Begitu penjelasan tentang turunan dalam pelajaran matematika. Ini membuat saya begitu yakin cita-cita saya pasti akan tercapai.

Stratifikasi dan Diferensiasi Sosial di Era Globalisasi


Stratifikasi dan Diferensiasi Sosial di Era Globalisasi












Oleh : Millati Izzatillah

I.                   Pendahuluan
A.      Latar Belakang
    Struktur Sosial, adalah sesuatu yang tidak pernah lepas dari kehidupan bermasyarakat, yang mana berarti sebuah tatanan social dan posisi sosial di dalam sebuah masyarakat. Dan didalam struktur social lazim kita jumpai adanya ketidak samaan sosial. Ketidaksamaan ini pada umumnya dilihat dari dua aspek, yaitu ketidaksamaan sosial secara horizontal (perbedaan antar individu atau kelompok dalam masyarakat yang tidak menunjukkan adanya tingkatan yang lebih tinggi atau yang lebih rendah ) dan ketidaksamaan social secara vertical(perbedaan antar individu atau kelompok dalam masyarakat yang menunjukkan adanya tingkatan yang lebih tinggi atau yang lebih rendah).  Adanya ketidaksamaan ini menimbulkan berbagai konflik dikehidupan masyarakat baik antar individu ataupun kelompok. Sedangkan konflik yang terjadi akan menimbulkan berbagai dampak, yang akan mempengaruhi kelangsungan hidup setiap individu di masyarakat.
B.      Tujuan
Ketidaksamaan sosial terdiri dari dua aspek, yaitu Horizontal yang disebut juga Deferensiasi sosial dan Vertikal yang disebut juga Stratifikasi sosial. Dengan mempelajari makna sebenarnya dari Deferensiasi sosial dan Stratifikasi sosial, hendaknya kita mengerti bagaimana menyikapi  Deferensiasi sosial dan Stratifikasi sosial yang terjadi di Era kita sekarang ini, Era Globalisasi.  


II.                 Tinjauan Teori
Ketidaksamaan sosial dapat kita lihat dan amati di dalam kehidupan sekitar kita. Faktor- faktor yang membentuk ketidaksamaan sosial dapat di jabarkan sebagai berikut:
·         Ciri fisik
·         Kemampuan atau potensi diri
·         Geografis
·         Budaya
·         Latar belakang sosial
Dari faktor - faktor tersebut dapat menimbulkan konflik-konflik yang kejadiannya  tidak jauh dengan apa yang seetiap anggota masyarakat rasakan. Contoh konflik-konflik tersebut adalah :
Konflik antarkelas
Didalam kehidupan bermasyarakat, sering kita jumpai si kaya, si miskin, si jenius, si bodoh, sang penguasa, yang tertindas, dan lain sebagainya. Inilah yang disebut dengan  lapisan-lapisan sosial yang melibatkan  ukuran-ukuran seperti kekayaan, kekuasaan, dan pendidikan. Kelompok dalam lapisan-lapisan tadi disebut kelas-kelas sosial. Apabila terjadi perbedaan kepentingan antara kelas-kelas sosial yang ada di masyarakat dalam mobilitas sosial maka akan muncul konflik antarkelas.
Contoh: demo karyawan karena adanya pengurangan kapasitas pegawai perusahaan, ini menggambarkan konflik antara kelas karyawan  dengan pengusaha.

Konflik antar kelompok sosial
Bermacam Agama, profesi, suku, bangsa, dan ras membentuk suatu kelompok sosial.  Apabila salah satu kelompok berusaha untuk menguasai kelompok lain atau terjadi pemaksaan, maka timbul konflik.
Contoh:. Perbedaan status antara kulit hitam dan kulit putih.

Konflik antargenerasi
Konflik antar generasi ini terjadi antara generasi tua yang mempertahankan nilai-nilai lama dan generasi mudah yang ingin mengadakan perubahan.
Contoh: Pergaulan bebas yang saat ini banyak dilakukan kaum muda di Indonesia sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut generasi tua.(Hastantyo’s Blog)









III.              Metodologi
Setiap orang memiliki sudut pandang dan penilaian terhadap sesuatu. Oleh karena itu dibuatlah kesimpulan yang diambil dari rata-rata jumlah yang paling banyak untuk dapat menentukan sesuatu.  
Pertanyaan
Ya
Tidak
Perlukah  adanya ketidaksamaan sosial di kehidupan masyarakat?


Apakah Anda memandang diri seseorang dengan status sosialnya?


Table1. Penilaian terhadap ketidaksamaan sosial.
 
Pentingkah status sosial untuk anda dalam mengenal seseorang?


Menurut penilaian dari sample sejumlah anggota masyarakat tujuh puluh persen mengatakan ketidaksamaan sosial sangat wajar terjadi karena pada dasarnya manusia selalu ingin membuat dirinya menjadi lebih baik dengan menaikan derajat hidupnya.









IV.              Studi Kasus
Sesungguhnya solusi dari ketidaksamaan sosial hanyalah satu kata yaitu “Toleransi” Makna Toleransi disini  adalah  “istilah dalam konteks sosialbudaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. Contohnya adalah toleransi beragama, dimana penganut mayoritas dalam suatu masyarakat mengizinkan keberadaan agama-agama lainnya. Istilah toleransi juga digunakan dengan menggunakan definisi "kelompok" yang lebih luas, misalnya partai politikorientasi seksual, dan lain-lain. Hingga saat ini masih banyak kontroversi dan kritik mengenai prinsip-prinsip toleransi, baik dari kaum liberal maupun konservatif.” Sumber: www.wikipedia.com
Dengan adanya toleransi akan terciptalah suatu budaya perdamaian seperti pada semboyan negara Indonesia binekha tunggal ika yang bermakna berbeda tetap satu jua.








V.                Pembahasan
A.    Deferensiasi
i.                   Definisi
Jika  diperhatikan, masyarakat yang ada di sekitar kita mempunyai banyak sekali perbedaan-perbedaan. Perbedaan-perbedaan itu antara lain dalam agama, ras, etnis, clan (klen), pekerjaan, budaya, maupun jenis kelamin.
Akan tetapi perbedaan-perbedaan itu tidak dapat diklasifikasikan secara bertingkat/vertikal seperti halnya pada tingkatan dalam lapisan ekonomi dan pendidikan , yaitu lapisan tinggi, lapisan menengah dan lapisan rendah. Perbedaan itu hanya secara horizontal yaitu mendatar. Pengelompokan horisontal yang didasarkan pada perbedaan ras, etnis (suku bangsa), klen dan agama disebut kemajemukan sosial, sedangkan pengelompokan berasarkan perbedaan profesi dan jenis kelamin disebut heterogenitas sosial.
ii.                 Wujud Deferensiasi Sosial
·         Deferensiasi Menurut Ras à Ketidaksamaan sosial karena perbedaan fisik 
                                                    dan biologis dengan cirri-ciri tertentu di 
                                                     setiap individu.
Contoh ; ras kulit, mata, dan bentuk wajah.
·         Deferensiasi Sosial Menurut Etnisà Ketidaksamaan sosial yang 
                                                                 didasarkan  persamaan  kebudayaan 
                                                                (suku bangsa).
Contoh ;  suku jawa, batak ,minang dan sebagainya.
·         Deferensiasi Sosial Menurut Agamaà Ketidaksamaan sosial yang 
                                                                 didasarkan  pada  apa yang dianut  
                                                                dan di pedomani.
·         Deferensiasi Sosial Menurut Genderà Ketidaksamaan sosial yang 
didasarkan  gender seseorang yang    mana termasuk watak, psikologis, dan pengetahuan kesadaran.   
B.    Stratifikasi
i.                   Definisi
 Sejumlah ahli sosiologi mendefinisikan stratifikasi sebagai berikut ;
Ø  Mosca
Stratifikasi sosial adalah pembedaan anggota masyarakat berdasarkan status yang dimilikinya.
Ø  Max Weber
Stratifikasi sosial merupakan penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu system sosial tertentu atas lapisan-lapisan hierarki menurut dimensi kekuasaan, privilese, prestise.
Ø  Pitirim A. Sorokin
Stratifikasi sosial merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas yang tersusun secara bertingkat.
ii.                 Macam Kelas Sosial dalam masyarakat.
v Kategorisasi Umum
·         Berdasarkan  status ekonomi                                             
ü  Golongan sangat kaya
ü   Golongan kaya
ü  Golongan miskin
·         Berdasarkan  status sosial à Karena adanya perbedaan dalam penghormatan dan status sosialnya.                                               
Contoh ;  Kasta brahmana lebih tinggi derajatnya dari pada kasta satria.

·         Berdasarkan  status politik à Ketidaksamaan sosial yang 
didasarkan  pada  kekuasaan dan wewenang.  
ü  Pejabat (Eksekutif, legislative, yudikatif)
ü  Rakyat biasa
                                                               
·         Berdasarkan  Hirarki militer
ü  Perwira
ü  Bintara
C.     Pengaruh Stratifikasi dan Deferensiasi sosial di Era Globalisasi
Era globalisasi, era yang kita jalani saat ini. Era yang dimana teknologi dan informasi menjadi ujung tombak untuk hidup di era ini. Kemajuan teknologi  semakin canggih seiring  dengan berjalanya waktu.Keadaan  itu akan membuat manusia dapat mengakses dan menjalankan hidupnya menjadi lebih mudah dan instan. Di era ini perbedaan gaya hidup sangat jelas terlihat. Gaya hidup atau Life style merupakan symbol untuk menampakan identitas diri atau identitas kelompok . Karena yang dapat menggunakan kecanggihan teknologi adalah kalangan masyarakat berstatus sosial tinggi, khususnya pada status ekonominya.
Sedangkan pada deferensiasi di era ini tidak terlalu menonjol, karena sikap toleransi sudah mulai tumbuh untuk ketidaksamaan sosial secara horizontal.  Menghormati seseorang yang beragama lain, atau bersuku bangsa lain misalnya, ini sudah menunjukan bahwa ketidaksamaan sosial bisa diatasi oleh toleransi.

D.    Dampak Positif dan Negatif  Stratifikasi dan Deferensiasi sosial di Era Globalisasi
i.                    Dampak positif   Stratifikasi
-          Setiap orang akan terus berusaha untuk meningkatkan derajat kehidupan mereka.
-          Setiap orang akan berlomba-lomba untuk berprestasi.
-           Setiap orang mempunyai kesempatan untuk memajukan taraf hidup.
-          Dapat mengikuti perkembangan zaman
ii.                  Dampak negatif Stratifikasi
-          Terjadinya kesenjangan sosial
-          Timbul konflik-konflik antar individu, kelompok, bahkan generasi.
iii.                Dampak positif   Deferensiasi
-          Menjaga kestabilan budaya
-          Mempertinggi semangat patriotism
-          Memperkuat tingginya rasa cinta terhadap bangsa
iv.                Dampak negatif Deferensiasi
-          Adanya sesuatu yang dianggap istimewa dibandingkan dengan  kelompok lain.
-          Adanya sikap saling mempertahankan dan pembelaan yang akan menimbulkan konflik-konflik.



E.     Upaya menanggapi Deferensiasi dan Stratifikasi
·         Setiap anggota masyarakat di beri kesempatan yang sama.
·         Program pengurangan kemiskinan.
·         Diwajibkan belajar untuk semua lapisan masyarakat.
·         Menegakkan supermasi Hukum
·         Mengembangkan rasa Nasionalisme.
·         Setiap anggota masyarakat harus ikut serta dalam membangun masyarakat itu sendiri.





VI.              Penutup
Ketidaksamaan sosial bukan lah suatu pemicu timbulnya konflik, seharusnya keadaan ini menjadi pemersatu. Karena setiap individu diciptakan sangat spesial, tidak ada yang sama satu sama lain. Oleh karena itu, toleransi menjadi kunci utama akan perdamaian seluruh umat manusia di dunia.















VII.           Daftar pusaka
Lembaga Pendidikan dan Konsultasi Belajar, Galileo Education Modul 11 IPS SMA
Saptono, Bambang Suteng S.2007. Sosiologi untuk SMA kelas XI . Jakarta: Phibeta
S Alam. 2009.Ekonomi untuk SMA dan MA kelas XI.Jakarta: Esis
(diakses pada 6 oktober 2011)
(diakses pada 6 oktober 2011)